Baca Juga
Nabi merupakan orang yang bawa berita. bukan sembarang berita, tetapi ini berita dari langit. seluruh nabi bawa 2 pesan utama: yakin kepada tuhan dan juga yakin pada hari akhir ataupun hari kebangkitan.
pesan dari langit bukan semata - mata pepesan kosong melainkan pula wajib diterapkan buat terciptanya kedisiplinan dan juga kenyamanan. pada titik ini, nabi menjelma jadi suri tauladan buat melangsungkan pesan ilahi.
nabi bukan cuma pembawa pesan (messenger) sebagaimana seperti tukang pos yang tidak ketahui isi pesan. nabi diberi uraian hendak berita ataupun pesan yang bakal diteruskan kepada sesama.
terlebih lagi nabi pula menanggapi beberapa persoalan menimpa iktikad dan juga isi berita langit. nabi pula jadi orang kesatu yang berhadapan dengan mereka yang tidak yakin dan juga mengingkari pesan langit.
terdapat yang jelas - jelas menentang (kafir) tetapi terdapat pula yang hatinya mendua antara yakin dan juga tidak yakin (munafiq). banyak pihak yang semata - mata iseng bertanya kepada nabi. ataupun bertanya buat menguji dan juga mengolok - olok.
terdapat pula yang gemar mencari - cari kesalahan, menguping dan juga membocorkan pembicaraan nabi, terlebih lagi terdapat yang meniru gerak - gerik nabi berdialog semata - mata mengejek tiap kali nabi mengantarkan pesan ataupun uraian.
dalam hadis riwayat imam bukhari diceritakan nabi naik mimbar dan juga setelah itu “menantang” jamaah buat mengajukan persoalan yang mereka ingin, dan juga tentu dikala itu hendak nabi jawab.
memandang nabi yang nampak geram, beberapa teman menangis terisak - isak. nabi berulangkali berseru: “bertanyalah kamu kepadaku! ”.
seseorang bertanya, “dimana tempat tinggalku nanti? ”
nabi menanggapi: “kamu di neraka! ”
lalu abdullah bin hudzaifah bertanya: “siapa ayahku ya rasul? ”
nabi menanggapi, “ayahmu hudzaifah. ”
nabi masih menunggu siapa lagi yang ingin bertanya seluruh berbagai kepadanya dengan terus mengulang: “ayo bertanya lagi? ! ”
umar bin khattab setelah itu mengatakan: “radhina billahi rabba, wa bil islami dina, wa bi muhammadin shallahu ‘alayhi wa sallam rasula (kami ridha allah bagaikan rabb kami, islam bagaikan agama kami dan juga muhammad saw bagaikan rasul). ” perkataan umar di tengah isak tangis para teman tersebut memiliki pertaubatan, penyesalan hendak ketidaksopanan beberapa pihak dan juga pula pengulangan janji kesetiaan kepada nabi.
nabi terdiam sejenak mendengar perkataan umar. nabi setelah itu bersabda: “pada bilik ini telah diperlihatkan kepadaku surga dan juga neraka. belum sempat kulihat kebaikan dan juga keburukan serupa hari ini. ” perkataan nabi bermakna gentingnya suasana dikala itu akibat kemarahan nabi.
kejadian ini berbuntut panjang. dalam riwayat imam muslim dikisahkan cerita ekstra betapa bunda abdullah murka pada anaknya yang bertanya siapa ayahnya di depan nabi. bukan aja persoalan itu tidak berarti ditanyakan tetapi pula seakan meragukan jalan nasabnya.
kata ibunya, “kamu sangka ibumu ini pelacur yang setelah itu aibnya ingin kalian buka di depan nabi dan juga jamaah dengan bertanya seakan meragukan siapa ayahmu? ! saya tidak sempat mendengar seseorang juga yang lebih durhaka dibanding engkau! ”
( sumber: congkop. com )
pesan dari langit bukan semata - mata pepesan kosong melainkan pula wajib diterapkan buat terciptanya kedisiplinan dan juga kenyamanan. pada titik ini, nabi menjelma jadi suri tauladan buat melangsungkan pesan ilahi.
nabi bukan cuma pembawa pesan (messenger) sebagaimana seperti tukang pos yang tidak ketahui isi pesan. nabi diberi uraian hendak berita ataupun pesan yang bakal diteruskan kepada sesama.
terlebih lagi nabi pula menanggapi beberapa persoalan menimpa iktikad dan juga isi berita langit. nabi pula jadi orang kesatu yang berhadapan dengan mereka yang tidak yakin dan juga mengingkari pesan langit.
terdapat yang jelas - jelas menentang (kafir) tetapi terdapat pula yang hatinya mendua antara yakin dan juga tidak yakin (munafiq). banyak pihak yang semata - mata iseng bertanya kepada nabi. ataupun bertanya buat menguji dan juga mengolok - olok.
terdapat pula yang gemar mencari - cari kesalahan, menguping dan juga membocorkan pembicaraan nabi, terlebih lagi terdapat yang meniru gerak - gerik nabi berdialog semata - mata mengejek tiap kali nabi mengantarkan pesan ataupun uraian.
dalam hadis riwayat imam bukhari diceritakan nabi naik mimbar dan juga setelah itu “menantang” jamaah buat mengajukan persoalan yang mereka ingin, dan juga tentu dikala itu hendak nabi jawab.
memandang nabi yang nampak geram, beberapa teman menangis terisak - isak. nabi berulangkali berseru: “bertanyalah kamu kepadaku! ”.
seseorang bertanya, “dimana tempat tinggalku nanti? ”
nabi menanggapi: “kamu di neraka! ”
lalu abdullah bin hudzaifah bertanya: “siapa ayahku ya rasul? ”
nabi menanggapi, “ayahmu hudzaifah. ”
nabi masih menunggu siapa lagi yang ingin bertanya seluruh berbagai kepadanya dengan terus mengulang: “ayo bertanya lagi? ! ”
umar bin khattab setelah itu mengatakan: “radhina billahi rabba, wa bil islami dina, wa bi muhammadin shallahu ‘alayhi wa sallam rasula (kami ridha allah bagaikan rabb kami, islam bagaikan agama kami dan juga muhammad saw bagaikan rasul). ” perkataan umar di tengah isak tangis para teman tersebut memiliki pertaubatan, penyesalan hendak ketidaksopanan beberapa pihak dan juga pula pengulangan janji kesetiaan kepada nabi.
nabi terdiam sejenak mendengar perkataan umar. nabi setelah itu bersabda: “pada bilik ini telah diperlihatkan kepadaku surga dan juga neraka. belum sempat kulihat kebaikan dan juga keburukan serupa hari ini. ” perkataan nabi bermakna gentingnya suasana dikala itu akibat kemarahan nabi.
kejadian ini berbuntut panjang. dalam riwayat imam muslim dikisahkan cerita ekstra betapa bunda abdullah murka pada anaknya yang bertanya siapa ayahnya di depan nabi. bukan aja persoalan itu tidak berarti ditanyakan tetapi pula seakan meragukan jalan nasabnya.
kata ibunya, “kamu sangka ibumu ini pelacur yang setelah itu aibnya ingin kalian buka di depan nabi dan juga jamaah dengan bertanya seakan meragukan siapa ayahmu? ! saya tidak sempat mendengar seseorang juga yang lebih durhaka dibanding engkau! ”
( sumber: congkop. com )
Tahu Surga dan Neraka, Ternyata Nabi Muhammad Bisa Melihat yang Lahir dan yang Batin. Ini Buktinya
4/
5
Oleh
admin
